Siti Nuraidah

G14100050

Laskar 20

Tidak Menyerah Dengan Keadaan

Saya akan menceritakan teman seperjuangan yang kini melanjutkan studi di Universitas Indonesia jurusan Antropologi. Dia memiliki tekad untuk berkuliah yang sangat tinggi, meski keuangan serta orang tua tidak mengijinkan dia untuk berkuliah namun dia tetap optimis.

Dia merupakan teman sekelas saya ketika kelas X. Di kelas XI dan XII kami pisah kelas karena dia mengambil jurusan IPS dan saya mengambil jurusan IPA. Namun kami tetap dekat. Walaupun kelas kami berjauhan (dari ujung ke ujung) namun kami tetap sering bertemu dan sering cerita karena saya sering main kekelasnya sehingga saya pun dekat dengan teman-teman sekelasnya. Saya dan dia bisa dikatakan dengan apa yang namanya “sahabat”.

Dia adalah Feni, seorang teman yang sangat baik, dia tidak hanya menjadi teman di kala senang. Sering memberi nasihat atau motivasi kepada teman-temannya di kala dirundung masalah. Walaupun teman-temannya termasuk aku sering mengatakan “sok bijak” kepada dia. Dengan gayanya yang unik, riweuh, heboh, sering menggebu-gebu ketika membahas suatu masalah, tak mau merepotkan orang lain walau dia butuh pertolongan, tak pantang menyerah, mudah bergaul, dan sering membuat orang lain tertawa karena sikapnnya. Dia memiliki teman-teman yang sangat memperhatikan dia termasuk dalam hal keuangan. Sebagai contoh ketika widyawisata ke Yogyakarta, PMDK UNJ, dll. Teman-temannya langsung mengusahakannya tanpa diminta walaupun pertolongan itu sempat ditolak oleh Feni.

Masa SMA pun telah usai, kini Feni memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa melanjutkan pendidikan ke Universitas yang sangat ia inginkan dari dulu yaitu UI. Walaupun ia menyadari banyak rintangan yang ia hadapi di depannya mulai dari restu orang tua sampai keuangan keluarga. Dia tetap belajar dengan giat untuk mempersiakan tes SIMAK UI. Akhirnya dia pun lolos dalam tes itu. Setelah itu dia memutar otak bagaimana caranya membayar biaya untuk masuk UI. Akhirnya dia pun mencari beasiswa, mulai dari beasiswa SAMPOERNA hingga ETOS. Dan dari semua beasiswa yang dia cari ETOS lah yang pas dihatinya. Segala macam tes dia lakukan, mulai dari tes tertulis hingga tes wawancara. Di tengah usaha dia untuk memperjuangkan beasiswa ini, ada beasiswa lain yang cukup menarik yaitu beasiswa BIDIK MISI. Dia pun memenuhi persyaratannya dan akhirnya dia berhasil mendapatkan beasiswa BIDIK MISI. Namun sayang uang beasiswa ini dia terima ketika sudah masuk kuliah. Berarti uang untuk membayar uang pertama belum dia dapatkan. Dia pun tetap mengusahakan beasiswa ETOS. Ditengah-tengah perjuangan untuk mendapatkan beasiswa ini ada kabar yang tidak menyenangkan yaitu jurusan yang dia dapatkan tidak mengijinkan dia untuk memperoleh beasiswa ini. Dia pun berpikir untuk  melepaskan Antropologi UI dan mencoba SNMPTN UI dengan resiko kehilangan Antopologi UI, tidak lolos SNMPTN, dan kehilangan beasiswa BIDIK MISI. Saya dan yang lain melarang untuk melakukannya karena resiko yang terlalu besar. Lalu teman sebangku Feni selama 2 tahun, sekelas selama 3 tahun dan merupakan sahabat feni yang ikut mencarikan beragam beasiswa serta ikut menjadi tiang agar Feni tetap kokoh di setiap usahanya  yang bernama Rona yang melanjutkan studi di UNS menceritakan keadannya kepada Nanda. Nanda adalah teman baik Feni yang sekelas selama 2 tahun. Nanda berasal dari keluarga yang berada. Nanda melanjutkan studi di UGM. Sebenarnya Feni tidak mau orang lain tahu, maka Rona secara sembunyi-sembunyi menceritakannya. Mendengar cerita itu maka Nanda pun menceritakannya kepada sang Ibu. Tanpa komando Ibu Nanda langsung menawarkan agar semua biaya ibu Nanda yang menanganinya. Nanda pun menceritakannya kepada Rona dan Rona menceritakannya kepada Feni. Feni pun kaget, awalnya Feni menolak tawaran ini dengan alasan tidak enak sering merepotkan Nanda. Dengan bujukan saya dan Rona akhirnya Feni pun menerima tawaran ini.

Maka Feni pun tetap bisa kuliah tanpa melepaskan beasiswa BIDIK MISI dan Antrpologi UI. Namun ada yang masih menganjal yaitu restu orang tua. Namun, kini orang tua Feni mulai mengijinkannya. Feni pun kini bisa benafas lega.

Siti Nuraidah

G14100050

Laskar 20

Buktikan Bahwa Kamu Bisa!!

            Saya akan menceritakan pengalaman saya. Pengalaman ini terjadi ketika saya masih duduk di bangku SMP kelas VIII. Cerita ini awali dengan persiapan sekolah saya untuk mempersiapkan Olimpiade.

            Sewaktu SMP , di kelas saya termasuk anak yang lumayan pandai dalam pelajaran hitungan. Oleh karena itu, guru matematika saya yang bernama Bu Aini menunjuk saya dan Rifki teman saya untuk mewakili kelas untuk seleksi menjadi perwakilan SMP dalam Olimpiade Matematika. Saya pun patuh. Total murid yang ikut seleksi ada 18 orang. Seleksi diadakan 1 minggu lagi.

            Hari penyeleksian pun di mulai. Saya yang telah mempersiapkan hal ini optimis, namun katika melihat soalnya saya langsung lemas tak berdaya karena soal yang di berikan sangat susah di luar perkiraan saya walaupun hanya 5 soal.

Penyeleksian olimpade matematika pun selesai. Pada saat kami hendak keluar kelas tiba-tiba ada pengumuman setelah ini ada penyeleksian untuk olimpiade biologi dan esoknya penyeleksian olimpiade fisika. Mendengar hal ini saya sangat kaget. Saya sempat berniat untuk kabur karena saya tidak terlalu bisa dalam pelajaran biologi. Namun niat ini saya urungkan karena jika kabur saya tidak ada teman pulang. Saya melakukan tes ini tanpa persiapkan dan ketika saya menghadapi soal saya tidak bisa dan mengisi dengan asal-asalan. Untuk tes fisika saya tidak mengikuti.

            Beberapa hari kemudian seorang guru datang mencari saya dan memberitahu bahwa saya lolos untuk mengikuti seleksi olimpiade biologi tingkat Jawa Barat mewakili sekolah. Mendengar hal itu saya kaget, karena saya mengisinya dengan asal-asalan. Semenjak itu saya bingung, senang, takut. Semua perasaan itu menjadi satu. Bingung karena bagaimana bisa saya menjadi perwakilan sekolah sementara saya tidak bisa dalam bidangnya. Senang karena saya bisa mewakili sekolah. Takut karena takut mengecewakan. Teman-teman saya pun memberikan dukungannya kepada saya.

Latihan pun dilakukan setiap hari selama seminggu sepulang sekolah. Dalam pelatihan aku membuat kecewa karena masih banyan yang aku belum tahu. Hasil di setiap latihan selalu kurang memuaskan. Guru pelatih saya sempat berkata bahwa Faruk temanku yang seharusnya dipilih karena dia memang pintar biologi namun karena hasil seleksi entah kenapa aku yang tertinggi maka aku lah yang di pilih. Mendengar perkataan ini aku seperti di hantam godam. Saya sempat ingin mengundurkan diri.

            Aku pun cerita kepada teman saya yang saya anggap dapat memberikan solusi. Solusi dari dia adalah saya harus tetap menjalani ini, buktikan bahwa saya bisa, dan buktikan bahwa saya tidak salah terpilih. Semenjak itu timbulah tekad dan semangat saya.   

            Tidak terasa hari semakin dekat. Tinggal 3 hari untuk saya mempersiapkan penyeleksian ini.  3 hari itu saya maksimalkan. Dari subuh hingga malam saya berkutat dengan biologi sehingga kamar saya terlihat seperti kapal pecah karena disesaki dengan buku biologi yang berantakan. Saya hampir jatuh sakit karena terlalu lelah belajar. Namun, ibu saya dengan sigap menanganinya.

            Hari penyeleksian pun di mulai. Penyeleksian dilakukan di IPB tepatnya di Auditorium Toyib. Ketika saya sampai di IPB saya muntah, mungkin karena kondisi tubuh saya yang kurang baik. Namun saya tetap semangat. Penyeleksian pun dimulai. Ketika saya mengerjakan soal saya merasa bahwa apa yang saya pelajari belakangan ini banyak yang keluar. Saya pun optimis.

            Hari pengumuman pun tiba. Ternyata saya lolos. Saya masuk dalam 25 besar Olimpiade Biologi se-JawaBarat. Saya telah membuktikan bahwa saya bisa dan saya tidak salah terpilih menjadi perwakilan sekolah. Dari 3 orang, hanya 2 orang yang lolos yaitu saya yang mewakili biologi dan Imam teman saya yang mewakili Matematika.